Jumat, 29 Maret 2013

Holy cow!

Long weekend!!!

Enaknya ngapain ya...? Pasti jauh-jauh hari orang sudah banyak berencana. Mudik, traveling, atau wisata belanja misalnya.

Sehubungan aku sudah mudik waktu long weekend Nyepi kemarin, aku nggak punya rencana apa-apa. Sebagai introvert sejati yang lebih butuh solitude daripada keramaian, sudah tentu rencana utamaku adalah mengurung diri tiga hari di kamar kos untuk menghabiskan tumpukan buku to-read. Siapa tahu akhir Maret ini aku bisa menyelesaikan 50% dari target Reading Challenge 2013.

Well, karena aku mendapat rejeki yang tak terduga hari Selasa kemarin, aku memutuskan untuk menjalankan rencana lama (banget) untuk beli sepeda lipat. Setelah browsing internet untuk mencari toko sepeda yang paling dekat, dapatlah Rodalink di wilayah SCBD.

Tapi... ke wilayah SCBD cuma buat beli sepeda kayaknya tanggung banget. Mungkin sudah saatnya melupakan menu makanan sehat sejenak, dan sekali-sekali makan steak, karena di dekat-dekat situ kalau tidak salah ada Holy cow!

Maka, sebelum belanja sepeda, dengan burung biru pilihanku aku meluncur ke Jl. Bakti. Sempat hampir nyasar dikit, maklum pertama kali dan si drivernya juga ngaku tidak tahu di mana Holy cow! berada, tapi untunglah mata minusku mendadak jago melihat ikon Holy cow di kejauhan!

Kesan pertama :
Waktu disambut di pintu masuk, "Untuk berapa orang?" dan kujawab "Satu orang", jadi terasa deja vu salah satu adegan Kekkon Dekinai Otoko waktu Hiroshi Abe mau makan yakiniku sendirian. Yah, tapi orang macam kami memang nggak peduli dan nggak ngaruh sih mau makan sendirian juga. Nyante aja kenapa?

Kesan kedua:
Tempatnya cukup nyaman, hawa panas menyengat di jalan tak terasa lagi. Dan interiornya itu loh, warna favoritku! Merah jreng!

Kesan ketiga:
Harga masih lumayan, meski teteup beberapa kali lipat warung steak biasa, masih di bawah 100K kecuali untuk daging wagyu (kapan-kapan aja deh). Akhirnya aku pesan prime rib eye australian beef 200 gram well done plus ice capuccino. Plus berdoa mudah-mudahan dagingnya bukan berasal dari sapi peternakan pabrik (susah melupakan isi buku Eating Animals-nya Jonathan Safran Foer).

Kesan keempat:
Delicious. Empuk dan pas matangnya, membuatku langsung membandingkannya dengan salah satu restoran steak di Plaza Semanggi yang memberiku pengalaman buruk. Steaknya nggak empuk dan nggak enak, pesan well done dapatnya rare, terus enegnya terasa sampai keesokan harinya. Harganya sama lagi. Huh.

Kesan kelima:
Pas selesai dan keluar dari Holy cow! langsung disambut aroma menyengat yang mengganggu. Baru sadar ternyata persis di seberang jalan dari lokasi Holy cow! terdapat Tempat Penampungan Sampah sementara. Weleh-weleh... langsung mengurangi poin yang sudah ada. Dan aku pun buru-buru menjauhi TKP.

Kesimpulannya, aku masih mau makan di Holy cow! lagi, tapi barangkali kalau bisa di cabangnya yang lain saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar